Pada tahun 2017 silam, badai matahari muncul menjadi sebagai fenomena yang paling kuat. Namun, pada akhir 2023, badai Matahari muncul bisa dibilang yang paling terkuat dari sebelumnya. Akhir pekan lalu, Fenomena ini terjadi. Dimana ketika Matahari melepaskan suar terkuatnya dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Fenomena tersebut juga dibilang telah menyebabkan pemadaman radio secara menyeluruh, terutama di Amerika Selatan.
Melansir dari CNN Indonesia, pada Senin, 18/12, bahwa dalam tragedi ini, Matahari akan melepaskan suar X2.8, yang memancarkan radiasi energi cukup tinggi. Tanda 'X' menunjukkan terhadap kategori intensitas paling tinggi dan tanda angka menentukan terhadap kekuatannya.
Sementara, SWPC atau Pusat Prediksi Cuaca Antariksa, memvisualisasikan peristiwa tersebut sebagai "Fenomena yang sangat luar biasa", dan bisa berpotensi menjadi "Salah satu peristiwa Radio Matahari terbesar yang pernah tercatat". Akibat Aktivitas matahari tersebut, menjadi salah satu gangguan yang cukup besar termasuk gangguan komunikasi radio terhadap pesawat terbang. Adapun kutipan dari Earth, bahwa dampak dari suar matahari akan sangat meluas. Sehingga bisa terasa dari satu ujung negara ke ujung negara lain.
SWPC juga telah mengamati terhadap potensi lontaran massa korona, yang diarahkan ke Bumi (CME), yang terkait dengan kejadian ini. CME sendiri adalah Suatu awan besar gas magnetik, yang berenergi listrik yang dilontarkan dari Matahari dengan kecepatan sekitar 12 hingga 1.250 mil per-detiknya. CME yang menghantam Bumi, dapat memicu badai geomagnetik yang bisa mengganggu terhadap jaringan listrik dan infrastruktur lainnya. Badai semacam itu juga dapat meningkatkan suatu intensitas aurora, yang akan membuat pertunjukan cahaya langit, akan terlihat lebih intens dan jelas di area yang lebih luas. Seperti halnya dapat terlihat dari New York sampai Wisconsin, dan Negara bagian Washington, Amerika Serikat.
Dalam laporannya, NOAA menginformasikan, bahwa terdapat beberapa dampak atau efek dari Badai Matahari, yang akan sangat terasa sampai ke Bumi. Dampak yang Pertama, adalah potensial, area yang terkena dampak itu terutama di sebelah bagian barat laut, 55 derajat Lintang Geomagnetik. Kemudian, fluktuasi jaringan listrik akan terjadi. Sehingga Sistem daya lintang yang tinggi, dapat mengalami alarm tegangan. Pesawat ruang angkasa juga akan merasakan dampaknya, yang akan membuat ketidakteraturan orientasi satelitnya, bisa terjadi terhadap "Peningkatan hambatan atas satelit yang mengorbit rendah di Bumi, berkemungkinan akan terjadi".
Lalu Seperti Apa Dampak terhadap Indonesia?
Johan Muhammad, selaku Peneliti Pusat Antariksa di Badan Riset dan Inovasi Nasional atau (BRIN), mengungkapkan bahwa dampak yang akan dirasakan Negara Indonesia karena badai Matahari, tidak akan sebesar di daerah yang berada di lintang tinggi, Seperti di sekitar kutub Bumi. Karena, letak Indonesia berada di khatulistiwa.
Namun, Meskipun demikian, ujar Johan, tidak memungkinkan Indonesia akan bebas dari dampak badai Matahari. Pasalnya, Cuaca antariksa akan banyak berdampak pada gangguan sinyal radio frekuensi tinggi (HF), dan Navigasi berbasis satelit. Selanjutnya, Johan juga membantah isu terhadap istilah "Kiamat badai Matahari". Karena, menurutnya itu adalah istilah yang keliru dan perlu diluruskan.
Wah.. Bagaimana Menurutmu?
Terima kasih, Semoga Informasi ini dapat bermanfaat!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar